{"id":680,"date":"2018-02-28T05:30:02","date_gmt":"2018-02-27T22:30:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/?p=680"},"modified":"2019-09-12T05:32:52","modified_gmt":"2019-09-11T22:32:52","slug":"melihat-antusiasme-warga-kanci-belajar-membatik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/melihat-antusiasme-warga-kanci-belajar-membatik\/","title":{"rendered":"Melihat Antusiasme Warga Kanci Belajar Membatik"},"content":{"rendered":"\n<p>RadarCirebon.com (28\/2\/2018) | Warga\nDesa Kanci tak pernah tahu caranya membuat batik. Secara turun temurun, mereka\nterampil membuat terasi. Itulah kenapa, ketika ada pelatihan membatik warga\nantusias. Sesuatu yang baru dan belum pernah dipelajari.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pengin coba aja pengalaman baru.\nBaru kali ini belajar batik, ternyata asyik juga,&#8221; ucap Ane Fenny (38),\nwarga Desa Kanci Kulon yang mulai belajar membatik sejak dua tahun lalu itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ane sendiri suka memakai pakaian batik.\nDi rumahnya, ada beberapa pakaian bermotif batik. Setelah bisa membatik, satu\nimpian kecilnya ingin mengenakan baju batik hasil karyanya sendiri. Sayangnya,\nsampai saat ini kemauan itu belum kesampaian.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sudah bisa membatik, cuma belum\nhalus. Ya dikit-dikit mulai ngerti. Tinggal belajar lagi di rumah,&#8221; ungkap\nAne.<\/p>\n\n\n\n<p>Ane memang menyukai belajar banyak hal\nbaru. Wanita berkerudung itu, juga kerap membuat kerajinan kue putri ayu. Kue\nitu dijual sesuai pesanan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau di rumah suka bikin pesanan\nkue. Buat tambahan penghasilan. Ya kalau bisa membatik jadi ada tambahan\npenghasilan baru,&#8221; harapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beda halnya dengan Putri Sinar Suci.\nMeski belum dikatakan mahir, ibu satu anak ini sudah bisa menjual kain batik\nhasil buah tangannya. Dia belajar sejak tiga tahun lalu. Tapi lantaran kurang\nberlatih, keterampilannya kurang terasah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHilang lagi. Tiga bulan belajar lagi.\nYang udah bisa baru soloan, yang bikin essen-essen belum terlalu memahami,\u201d\nkata Putri, yang tinggal di Desa Kanci Wetan.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang saat ini membatik belum bisa\ndiandalkan jadi penghasilan utama, namun lebih kepada inisiatif untuk turut\nmelanggengkan budaya Cirebon. &#8220;Kalau ada yang terjual ya kita senang\nsekali. Tapi ini juga untuk melestarikan budaya,&#8221; ujar Putri.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski batik sudah menjadi pakaian sehari-hari\nyang dikenakan oleh masyarakat, mempelajari batik merupakan hal baru. Apalagi\nCirebon menjadi satu dari beberapa daerah di Indonesia yang dikenal memproduksi\nkerajinan batik.<\/p>\n\n\n\n<p>Motif batik khas Cirebon yaitu Mega\nMendung pun sudah terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Namun, umumnya\npengrajin batik Cirebon masih terpusat di Desa Trusmi, dan sebagian lagi berada\ndi Desa Ciwaringin. Tapi, ibu rumah tangga ini berharap suatu saat nanti\nkerajinan batik karya mereka juga bisa menembus pasar batik Cirebon.&lt;<\/p>\n\n\n\n<p>Kelas pelatihan membatik yang berjalan\nkembali tahun 2018 ini diikuti 26 orang warga. Mayoritas ibu-ibu rumah tangga.\nPelatihnya berasal dari perajin batik di desa Trusmi. Mas\u2019ud namanya. Pria 44\ntahun itu, sudah belajar batik sejak kecil. Dia belajar membatik dari ibunya,\nyang menjadi buruh batik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mas&#8217;ud menyebut potensi penjualan batik\nsaat ini cukup bagus. Bahkan relatif semakin mudah dengan inovasi teknologi\ninternet. Dia menyebut 40 persen pesanan batik berasal dari penjualan online.\nBatik tulis memang memiliki pangsa pasar yang tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Zaman sekarang penjualan mudah\ntinggal pasang foto pajang di media online,&#8221; ungkap Mas&#8217;ud.&lt;<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, yang paling banyak dipesan model\nbatik piring lampadan. Untuk harga kain batik bervariasi, bergantung dari\nkerapihan produk dan nilai seninya. Hanya saja satu kain batik tulis yang\nstandar umumnya dijual di kisaran harga Rp200-450 ribu. Bahkan ada yang sampai\nlebih dari itu.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau kain batik itu kan yang\ndijual nilai seninya, jadi susah juga nentuin harga. Yang standar ya harganya\nRp200-450 ribu,&#8221; sebutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan potensi pemasaran yang luas itu,\nMas\u2019ud yakin apabila warga bisa memproduksi batik tulis akan menambah\npenghasilan. Tapi, untuk bisa mahir membatik butuh ketekunan dan keseriusan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebab membatik ini, merupakan kerajinan\ntangan yang memperhatikan detil. Setiap orang bisa membuat batik, asal dia mau\nbelajar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau proses pengerjaanya satu kain\nbisa satu bulan, setengah bulan, bahkan ada yang satu hari juga bisa jadi,\u201d\nujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada tahapan-tahapan dalam membuat\nbatik. Pertama, membuat pola desain untuk motif gambar. Baru kain batik\ndiberikan pewarna. Setelah diberikan warna, masuk ke tahap\n&lt;em&gt;pelorodan&lt;\/em&gt; atau pencabutan lilin dari kain.<\/p>\n\n\n\n<p>Biasanya dilepas dengan menggunakan air\npanas. Setelah itu barulah pekerjaan selesai dan kain batik sudah siap dijual.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelatihan batik tulis untuk warga Desa\nKanci Kulon dan Kanci Wetan ini, punya kesan tersendiri. Bagi Mas\u2019ud, pelatihan\nseperti ini perlu diperluas, sehingga batik sebagai warisan budaya Indonesia\ntetap lestari, karena tidak kehabisan perajin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita sudah berjalan sejak dua tahun\nlalu, memang sempat terhenti. Tapi setelah kita telaah lagi, ternyata program\nini potensial untuk dilanjutkan dan cukup banyak peminatnya,\u201d ucap Manager CSR\nCirebon Power, Yusuf Arianto.<\/p>\n\n\n\n<p>Yusuf mengakui, pelatihan membatik\nsebagai program pemberdayaan masyarakat yang awalnya sempat memicu keraguan,\nkarena masyarakat Kanci bukan berlatar belakang pengrajin batik. Namun ternyata\nmasyarakat cukup antusias, bahkan ada yang sampai mampu membuat batik sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang paling penting, ini bentuk\nsumbangsih kami untuk melahirkan peluang usaha bagi masyarakat di sekitar kami,\nsekaligus turut melestarikan budaya masyarakat Cirebon,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Yusuf, pelatihan membatik ini\nmemiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebagian besar\npesertanya ibu-ibu rumah tangga, yang bekerja di rumah. Apabila mereka mampu\nmembuat batik yang layak jual, tentu bisa mendapatkan penghasilan lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDaripada mereka bekerja di pabrik\nmisalkan, akan lebih baik bisa menghasilkan pendapatan tambahan dengan\nketerampilan menghasilkan batik. Kan bisa dikerjakan di rumah, dan masih bisa\nngurus anak-anak,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya, cukup dirasakan oleh warga\nyang mengikuti pelatihan. Meski baru tahap dasar, mereka bisa belajar cara\nmembuat batik untu kemudian dipraktekan di rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Yusuf bersama pelatih juga membuat pola kerja sama dalam memasarkan batik hasil karya warga. Sehingga bagi warga yang bisa membuat batik tulis yang layak jual, nantinya akan dibeli, sesuai dengan pesanan pasar.<br><br>Sumber<br>https:\/\/www.radarcirebon.com\/melihat-antusiasme-warga-kanci-belajar-membatik.html <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RadarCirebon.com (28\/2\/2018) | Warga Desa Kanci tak pernah tahu caranya membuat batik. Secara turun temurun, mereka terampil membuat terasi.<span class=\"excerpt-hellip\"> \u2026<\/span><\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":681,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-perusahaan"],"fimg_url":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/wp-content\/uploads\/ANTUSIASME-WARGA-KANCI-MELAJAR-MEMBATIK.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/681"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cirebonpower.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}